N24 adalah anak sulung gue, cowok. Dia pakai nomor punggung 24 karena suka Kobe Bryan. N30 adalah anak kedua, cowok juga, yang nge-fans Stephen Curry. Si cewek bungsu pakai nomer 5, gue nggak tau persis kenapa. Ketiga anak ini main basket, N24 dan N30 serius main di dua klub yang berbeda. Sedangkan N5 ikut klub di sekolahnya, gue nggak yakin dia serius karena masih haha hihi dan ikut-ikutan temen. Tapi okelah.
Gue memang mendorong mereka semua untuk ikut salah satu olah raga, tujuan hanya satu yaitu supaya mereka fit dan bugar sehingga punya energi besar untuk menjalani aktivitas. Jenis olah raganya bebas, tapi harus konsisten. N24 selama 6 tahun ikut taekwondo di sekolahnya, tapi sejak kenalan sama basket (N30 yang ngenalin) dia memilih pindah dengan penuh semangat. N30 memang memilih basket sejak kelas satu (saat ini dituliskan dia udah kelas empat). Gue nggak ngerti kenapa mereka kompak memilih basket padahal gue lebih banyak ngomong dan ajak mereka main futsal, karena emang gue main bola. Ini bikin gue harus banyak belajar olah raga basket.
Ternyata gue belajar banyak dari basket.
Waktu pertama-tama melihat N30 latihan di salah satu klub di Depok, gue nggak berharap banyak dia akan serius dan berkembang. Dia terlihat kepayahan mengejar teman-temannya yang udah lebih dulu gabung di klub ini. Tapi dia punya keinginan kuat untuk terus latihan, pelan-pelan kondisi fisik dan cara bermainnya mulai berkembang meskipun belum bisa masuk starting five. Setelah setahun latihan, dia mulai ikut beberapa pertandingan, baik open competition maupun sparring. Melihat anak-anak nangis karena kalah di pertandingan membuat gue gembira N30 sudah bisa merasakan pengalaman ini sejak kecil. Saat anak-anak menang, gue bersorak seperti bocah. Gue ikut jantungan selama pertandingan, apalagi kalau skornya ketat. Tapi inilah kompetisi olah raga, selalu seru dan menyenangkan.
Di klub ini gue belajar bahwa para orang tua dan anak-anak sudah menjadi seperti keluarga. Kami saling support dan membantu satu sama lain untuk bertumbuh. Agak sedih saat kami memutuskan pindah klub karena mencari yang dekat rumah (kami pindah rumah) dan mencari klub yang lebih baik untuk perkembangan N30.
N24 awalnya juga gabung dengan klub yang sama dengan N30, tapi hanya beberapa kali latihan dan kami sepakat untuk pindah ke klub di bilangan Tanjung Barat. Perkembangan N24 nggak seperti N30. Dia agak kaku dan nggak terlalu cepat berkembang. Beberapa bulan gabung klub, dia dicoba untuk masuk Tim A di kelompok umurnya karena badannya yang memang tinggi besar untuk anak seusianya. Tapi karena belum lama main basket, dia sangat keteteran mengikuti ritme dan tuntutan di Tim A. Alhasil dia turun ke Tim B, sebuah kenyataan yang kurang menyenangkan. Gue belajar dari N24 yang ternyata baik-baik saja dan malah hepi masuk Tim B. Saat itu gue sadar ternyata gue punya ekspektasi besar yang kurang pas terhadap N24. Ini kecenderungan orang tua.
Sekarang mereka tergabung di dua klub berbeda yang lumayan punya nama. Dua-duanya masuk tim dan perjalanan sesungguhnya dimulai di sini.
Pertumbuhan mental dan skill N30 selama empat tahun latihan membuat gue tersenyum. Soal skill boleh dibilang perkembangannya nggak cepat dan gue gak ambil pusing, tapi soal mental N30 cukup menampakkan aktualisasi dari potensi yang dia punya. Dia bukan anak yang banyak omong, cenderung diem dan nggak mudah memulai pertemanan. Tapi dia adalah pengamat ulung yang detail dan sangat peka. Di basket, keahlian ini sangat berguna. N30 bisa punya analisis yang tajam pada sebuah pertandingan atau pengamatannya terhadap pelatih dan teman-temannya. Dari situlah gue bisa melihat potensi lainnya, yaitu leadership. Walaupun gak banyak ngoceh, N30 bisa pelan-pelan “nge-lead” secara informal timnya saat bermain (karena secara formal dia bukan kapten). Tapi ini subjektif pengamatan gue ya J Paling lucu sekaligus bikin haru adalah saat dia dan teman-temannya kalah dalam beberapa pertandingan di turnamen. Bukan hanya menangis karena kalah, dia bisa lho nangis karena melihat temannya cidera. Kepekaan itulah yang membuatnya dekat dengan teman-temannya.
Lain cerita dengan N24.
Karena baru setahun lebih main basket, N24 punya pe-er banyak di timnya yang sekarang. Dia harus nguber ketertinggalannya, mulai dari: fisik, teknik, intelligent bermain, juga mental. Dengan waktu lahitan yang intens (5 kali seminggu), kondisi fisik beranjak naik. Gue yakin begitu juga dengan teknik, kalau mental akan berkembang seiring banyaknya turnamen yang diikuti. Gue bersyukur di salah satu jadwal latihan N24, dia dilatih oleh seorang legenda di klubnya yang terkenal galak dan ini bener-bener membentuk mental tahan banting. Tapi ada hal yang baru gue sadari belakangan. N24 punya postur yang mendukung (saat ini dia belajar di SML dan tingginya sekitar 184cm), tapi dia punya tembok besar yang perlu diruntuhkan. Dengan postur yang cukup besar, peran yang diberikan coach tim untuknya adalah sebagai bigman. Tugas bigman adalah bertahan. Sedangkan dia punya ego untuk bisa menjadi pemain yang mencetak poin. Nggak mudah baginya untuk menerima peran yang nggak sesuai dengan harapannya. Perlahan gue perlu mempersuasi dia untuk menerima peran itu dan menunggu kesempatan bermain sesuai dengan posisi yang dia mau. Sepertinya saat ini dia sudah bisa menerima hal itu, harapannya bisa bermain lebih enjoy. N24 juga pinya pe-er besar soal intelligent saan bermain: bermain dengan tujuan, efektif, dan efisien. Kebetulan di klub dia nggak mendapat pengetahuan ini, akhirnya gue putusin untuk minta bantuan kawan semasa SMA (sebut saja CF) untuk membantunya. Dia sangat senang saat latihan tambahan dengan CF karena betul-betul dijelaskan secara fundamental apa itu basket, tujuan bermain saat di lapangan, nilai menjadi defender dan banyak hal yang membutuhkan daya cerna otak. Memang olah raga juga perlu otak J
Yah, begitulah cerita singkat bagaimana gue belajar dari basket demi bisa men-support bocah-bocah. Jadi benar kata orang bijak, kita perlu selalu belajar hal-hal baru untuk bisa maju.