0%
Still working...

Pagi ini Wawan dan Wijaya memutuskan titip absen kuliah umum jam 8 dan memilih menikmati es teh manis sambil ngobrol di Takor. Wijaya hampir menghabiskan batang ke-tiga rokok Super seakan dia hidup hanya untuk hari ini.  

 “Jay, kemarin anak-anak 2001 pada curhat kalau mereka takut untuk ikut

Sarasehan[1] … dan mereka berencana untuk boikot.” Wawan membuka obrolan sambil menutup komik yang sedang dibacanya.  

“Terus, apa hubungannya sama lo?” Wijaya dengan santai menanggapi.

“Ya sebenernya gak ada hubungan langsung sih, tapi kalau mereka bener-bener jadi boikot Sarasehan gue kuatir relasi beberapa temen yang sering main bola bareng bisa jadi terganggu. Coba lo bayangin gimana kalau angkatan 96 tau … lo tau kan mulutnya Biyan… Gue sih cuman mikirin bola kita. Sebentar lagi ada Olimpiade FISIP. Jurusan kita kan cowoknya sedikit dan di angkatan 2001 ada beberapa yang oke kayak Ari, Jams, Hagi. Bisa berantakan nanti persiapan kita.”

Wijaya geleng-geleng melihat sahabatnya yang serius banget “Wan..Wan… kejauhan lo mikirnya. Kalau mereka mau biokot atau apapun, itu mah hak mereka. Kalau tim bola kita sih kayaknya akan baik-baik aja, Gue yakin Biyan nggak akan reseh.”

“Emang nanti lo mau ikutan Sar? Bukannya lo nggak suka acara begituan?” lanjut Wijaya.

“Gue emang nggak suka perpeloncoan. Tapi kalau angkatan kita banyak yang ikut, gue akan join”

“Nih, ada sms dari Hagi … Dia, Ari, dan Jams minta ketemu sama kita di Kansas nanti siang” Wawan menunjukkan hape-nya ke Wijaya. 

Wawan dan Wijaya bergeser ke Kansas.

———-

 “Gi, emang nggak bisa kita ngobrol di Takor aja? Panas tau di sini. Ada apaan?” Wawan nyerocos saat ketiga kawannya datang.

“Santai bro, kami baru datang udah diberondong gitu” Jams menepuk pundak seniornya itu.

“Jadi, kalian mau boikot Sar?” Wijaya lugas bertanya.

“Busyet, kasih napas kaliii .. Gue pesen makan dulu, ntar gue jelasin” sambung Ari sambil ngeloyor.

Setelah semua tenang dengan makanan di meja masing-masing ….

“Gini.. kemarin waktu kami selesai kuliah, ada salah seorang temen yang ngeliatin selembar kertas yang isinya seperti rundown dan beberapa keterangan tentang kegiatan Sar minggu depan. Nah di situ tertulis ada semacam skenario untuk melakukan kekerasan ke kami. Spontan beberapa temen ilfil[2] dan pengen nggak ikut Sar. Dan setelah kami omongin, demi kekompakan kami mutusin untuk semua nggak ikut Sar. Nah gimana pendapat kalian?” Ari sok serius menjelaskan.

“Ngapain kalian minta pendapat kami? Boikot-boikot aja, itu kan hak kalian” sambil menghembuskan asap dari mulutnya, Wijaya berkomentar.

Nggak setuju, kata Wawan “Kalau menurut Gue, kalian semua harus ikut Sar. Atau paling nggak bukan semua boikot kayak gitu… yang mau nggak ikut ya silakan, kan udah ada beberapa contoh senior kita yang nggak ikut Sar. Gue tadi bilang ke Wijaya, gue mikirin tim bola jurusan kita yang akan ikut Olimpiade FISIP. Terutama kalian bertiga, kalau kalian nggak ikut Sar bisa-bisa ngaruh ke tim kita.”

“Gini Jay, Wan … kami bertiga minta pendapat kalian karena kami pikir kalian bisa kasih pandangan. Ini aja temen-temen 2001 nggak tau, makanya kita ngobrolnya di mari.”

Hagi melanjutkan “Sebetulnya gue juga udah kasih opsi itu ke temen-temen, yang ikut silakan ikut yang mau nggak ikut ya bebas. Tapi setelah dipikir lagi kok kalau seperti ini angkatan 2001 nggak kompak banget. Kita kan tau kalau senior-senior yang nggak ikut Sar jadi seperti diasingkan di jurusan. Kami nggak mau gitu. Kalaupun diasingkan ya satu angkatan aja jangan perorangan, kasihan.” 

“Ya kalau gitu kalian semua ikut Sar … nikmatin aja. Lagian cemen banget takut ikut Sar karena ada bocoran rundown, belum tentu juga itu bener” Wijaya menimpali.

“Nah gitu dong, Jay. Lo dukung gue.” Wawan ngasih jempol ke Wijaya.

“Ya udah, makasih kalian udah kasih pendapat. Kami akan omongin lagi sama anak-anak” Ari mengangkat gelas es teh manisnya.

Mereka berlima melanjutkan obrolan tentang persiapan tim sepak bola KS.

———-

Hari H Sarasehan.

Wawan dan Wijaya duduk berdua di depan Gedung A, mereka membawa tas berisi baju ganti karena memang mau ikut Sarasehan angkatan 2001. Sedang asyik ngobrol, beberapa orang senior angkatan ‘98 dan ‘99 mendatangi keduanya. Tanpa pengantar, para senior memberondong Wawan dan Wijaya … tentunya dengan nada tinggi.

“Wan, Jay … apa sih maksud kalian menghasut anak-anak 2001 untuk nggak ikut Sar? Ada hak apa lo berdua?” Lia, salah satu pentolan ’98, membentak.

Belum sempat mencerna situasi apalagi menjawab, kedua sohib itu kembali mendapat semprotan. Kali ini dari Edwin, anak ’99 yang memang menjadi panitia Sar.  

“Kalian ini ya emang biangkerok. Dulu kalian males-malesan waktu ikut Sar, sekarang jadi provokator ngajakin anak-anak baru untuk boikot. Kalian tau nggak, semua orang di jurusan ini marah ke kalian.”

“Kalau emang mau jadi pahlawan, jangan di sini deh … kalian nggak ngerasain panitia pontang-panting nyiapin acara ini, dosen-dosen juga udah banyak yang confirm hadir.” seorang berteriak dari belakang rombongan.

Wijaya mencoba menjelaskan “Lah, siapa yang ngomporin nggak ikut Sar?  Kami aja mau ikutan. Minggu lalu memang ada anak 2001 yang nanya soal ini, tapi kami sarankan untuk tetap ikut Sar.”

“Aaahhh, bisa aja ngeles ..” Edwin langsung memotong. “Udah sekarang kalian berdua dipanggil Mba Kuny tuh di Jurusan.”

Wawan dan Wijaya mendapat kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke Ketua Jurusan perihal situasi yang sekarang bisa mereka mengerti. Semua pembicaraan di Kansas disampaikan dan Mba Kuny bisa mengerti kenapa banyak senior yang marah ke mereka berdua. Tapi yang belum dipahami adalah siapa yang meberikan kertas berisi bocoran acara dan apa maksudnya. Supaya meredam Susana hati orang-orang yang sudah tidak kondusif, kedua orang yang dianggap biangkerok itu diminta untuk tidak ikut Sarasehan.  

Ternyata semua belum selesai meski mereka sudah dipanggil oleh Kajur. Sekarang mereka digiring ke lapangan FASILKOM dan sudah ditunggu oleh setidaknya lima belas senior 90an. Belum lagi mereka duduk, Biyan berdri dan berteriak dengan suaranya yang menggelegar.

“Woi, bangsat … sini lo berdua gue gampar. Kurang ajar banget lo ngomporin anak-anak nggak ikut Sar!!”

Mereka berdua tau betul Biyan yang sering dipanggil Gemuk. Meskipun badannya tinggi besar dan tampangnya sangar, tapi Gemuk orang yang baik dan fair. Mereka nggak yakin kalau kali ini Gemuk bener-bener marah, makanya Wawan dan Wijaya diam saja. Pada persidangan di lapangan itu tidak ada kekerasan fisik, tapi keduanya mendapat umpatan verbal yang luar biasa yang hanya bisa didengar tampa bisa, tepatnya tanpa mau mereka jelaskan.

Sebelum rombongan angkatan 2001 berangkat menuju tempat Sar, Jams menghampiri Wijaya. Dia menyampaikan maaf atas kejadian ini dan memberi tau bahwa yang sengaja menjatuhkan kertas di hatle dan dibaca oleh teman-temannya adalah seorang senior yang juga menjadi panitia. Wijaya hanya tersenyum.

Mereka nggak mikirin itu lagi karena sudah punya rencana untuk nginep di rumah seorang kawan.


[1] Sarasehan (Sar) adalah bentuk lain dari ospek, kegiatan orientasi untuk mahasiswa baru. Konon, Sarasehan lebih lunak dari ospek.

[2] Ilang Feeling

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts