0%
Still working...

“Kak, aku bingung …. pengeluaran kami udah gede banget dan jauh lebih gede dari gaji kami berdua” tiba-tiba Ida nangis di depan Kakak Iparnya.

“Udah gitu, utang pinjol udah sangat mencekik dan mulai ada teror-teror ke keluarga lain. Aku pengen jual tanah di Citayam yang Ibu kasih. Gimana Kak?”

Rosi memandang adik iparnya dengan penuh kasihan karena selama ini Ida tidak pernah tampak sedih. Ida selalu terlihat bahagia bersama suaminya, Abang, dan sering jalan-jalan ke luar kota berduaan. Nggak hanya itu, Abang selalu posting di sosial media momen-momen mereka berdua dengan kata-kata romantis dan ungkapan syukur. Selama ini Rosi bersyukur karena Ida dan suaminya begitu gembira seakan nggak pernah sedih. Tapi kali ini …

Rosi mencoba mengatur kata yang keluar dari mulutnya “Da … apapun yang sedang kamu alami, aku akan support. Tapi aku bingung kenapa tiba-tiba kamu punya kesulitan seperti ini?”

“Soal tanah Citayam, terserah kamu dan Mas Bagas … itu kan warisan Ibu buat kalian.”

Ida menyodorkan tablet, yang di layarnya menampilkan catatan keuangan bulanan.

“Ini beneran?” tanya Rosi sambil mengamati angka-angka yang tidak masuk akal buatnya.

Hanya mengangguk, air mata Ida semakin deras sesaat setelah Rosi memeluknya. Begini kira-kira catatan keuangan itu:

Setelah tiga tahun menikah, Ida dan Abang memutuskan untuk membantu lima keponakan Abang dari kampung dengan mengajak mereka tinggal bersama. Selain menampung mereka, Ida dan Abang juga membiayai sekolah tiga diantaranya. Sungguh mulia hati suami istri ini.

….

Keesokan harinya Rosi menceritakan kepada Bagas apa yang dialami adiknya. Bagas nggak bisa menahan marah, menggebrak meja dan mengeluarkan makian untuk Abang. “Anjing, bangsat, gue tau ini semua karena orang itu.”

“Gue harus ketemu Abang …” Bagas berdiri, hendak mendatangi rumah adiknya yang nggak jauh dari rumahnya. Tapi Rosi menghalangi dan meminta Bagas untuk menenangkan diri lebih dulu, karena dia tau suaminya bisa nekat kalau sedang emosi seperti ini.  Emosi Bagas tidak kunjung mereda, tapi dia masih mendengarkan istrinya untuk tidak bertemu Abang.

Sejak saat itu, Ida nggak pernah datang ke rumah kakaknya. Seminggu kemudian keluarga besar dikagetkan dengan berita Ida masuk rumah sakit dan saat ini kondisinya kritis. Memang semua tau kalau Ida punya kelainan jantung, diperparah dengan pola hidupnya yang tidak sehat: makan semaunya, nggak pernah olah raga, dan sering begadang nonton drama Korea.

Keluarga besar hanya mengetahui kondisi terkini melalui Abang, karena hanya dia yang keluar masuk ruang rawat dan bicara dengan dokter, bahkan kakak kandungnya tidak diperbolehkan.

Menurut Abang, kondisi Ida semakin parah. Ida selalu mengeluarkan air mata tapi nggak bisa bicara. Kondisi ini membuat sang suami sangat sedih karena baginya Ida adalah segalanya.

Sampai akhirnya Ida pergi mengadap Bapa di surga.

….

Pada saat ibadat di depan peti, Abang menyampaikan isi kepalanya

“Terima kasih, istriku … kamu membuatku bisa mengalami kebahagiaan dan memiliki semuanya seperti saat ini. Sekarang kamu sudah damai bersama Yesus. Terima kasih juga untuk semua kerabat yang mendoakan kami selama ini. Saya sangat mencintai Ida dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Dia akan selalu ada di dalam hati, pikiran, dan kehidupan saya selamanya. Saya akan menjaga semua peninggalannya dengan segala kekuatan sampai saya menyusul dia.”

….

Sebulan setelah Ida meninggal, terjadi keributan hebat di rumah Ida (yang adalah peninggalan orang tuanya). Abang bertengkar dengan Bagas. Abang bersikeras untuk menjaga semua warisan yang diberikan untuk Ida, sedangkan Bagas dengan keras mengusir iparnya dari rumah itu. Kedua laki-laki ini hampir bisa dipastikan baku hantam kalau tidak dicegah Rosi dan ketua RT yang datang.

Bagas dan Rosi pulang.

Mereka terkejut saat membuka email di tablet milik Ida. Di email itu ada draft yang belum terkirim, tadinya akan dikirim ke Rosi.  

“Kak Rosi, aku minta maaf karena tempo hari cerita tentang kesulitan uang yang kami alami. Aku tau ini pasti bikin Bagas marah. Tapi sebetulnya yang aku rasain lebih dari soal utang-utang kami.

Dulu, kuputusan menikah dengan Abang karena usiaku yang sudah semakin tua. Aku nggak tega melihat Ibu yang terus-menerus mengharapkan aku menikah. Aku mencoba menikmati pernikahan kami, sudah mulai bisa, sampai dia memaksaku membantu kelima ponakannya setelah Ibu meninggal.

Rumah Ibu memang cukup besar untuk menampung kami ber-tujuh, tapi dorongan untuk hidup enak sungguh menguras semua tabunganku. Nggak hanya itu, Abang mendesakku untuk segera mengurus surat turun waris tapi aku menundanya.

Aku harus mempertahankan pernikahan ini karena janjiku pada Tuhan untuk menikah satu kali. Semua aku pikirkan sendiri, sampai aku datang ke Kakak. Setelah pulang dari rumah Kakak, aku mimpi Bapak Ibu mendatangiku dan mengajakku bertemu Tuhan Yesus. Aku rasa saatku sudah dekat, untuk berjumpa dengan mereka. Aku bahagia bisa menepati janji pernikahan.

Sampaikan salam sayangku buat Bagas ya. Minta tolong dia untuk menjaga semua peninggalan Bapak Ibu.”

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts