0%
Still working...

Tulisan ini gue bikin satu hari setelah Om Hans berpulang ke pangkuan Yang Maha Esa. kesedihan yang muncul sama seperti dulu saat Ocha pergi. Sedikit kenangan masa-masa susah bareng di kontrakan Mansion House ingin gue abadikan di sini. Selamat jalan Om Hans, salam buat Ocha.

Badrul Munir de Rosa, nama FB Ocha, seorang kawan yang sangat unik dengan mulutnya yang bagaikan silet. Nggak terlalu banyak bicara, tapi sekalinya ngomong atau komentar pasti nylekit dan tepat sasaran. Kalau baru pertama mendengarnya bisa dipastikan sakit hati. Itulah uniknya Ocha, sebagai teman dia sangat setia kawan.    

Meskipun badannya kecil tapi dia adalah bek yang sangat handal mengawal pertahanan setiap tim yang dibelanya. Kecil badannya tidak sebanding dengan suaranya yang sangat nyaring saat berteriak untuk mengatur pertahanan. Postur tubuh yang tidak besar membantunya berlari dengan sangat cepat dan mengawal setiap striker yang mengancam. Cha, kita kangen sama lo.

Kalau Om Hans sebetulnya nggak satu angkatan dengan kebanyakan kami di keluarga Reges, dia lebih tua dua sampai empat tahun. Mungkin karena sering nongkrong bareng di Takor dan main bola setiap Senin, dia menjadi dekat dengan kami. Cirinya adalah lintingan mini dengan bau yang khas. Dia sering merelakan diri untuk membeli makanan tertentu saat kami berhasil “malak” kawan paling tajir saat itu. “Bosko, sini gue yang jalan beli martabak” kira-kira kayak gitu omongan Om Hans yang bikin semua hepi. 

Ocha dan Om Hans hanya dua dari kami, Reges. Gue juga kurang paham kenapa kami menyebut diri Reges, tapi itu nggak penting … paling penting buat gue adalah relasi kami yang sampai saat ini masih sangat erat. Ini beberapa dari kami dengan berbagai keunikannya:

Pak Ketu, selalu bawa-bawa handuk di pundaknya kalau mau mandi tapi nggak mandi-mandi. Mr. Profesor, yang paling pintar diantara kami dan selalu tidur teng jam 9 malam. Icon Batak, sing paling kuat dan nyali tapi (saat itu) takut sama cewek. Dengz adalah menteri kebersihan, sering membuang cucian penghuni yang sudah berhari-hari direndem. Blake yang nggak bisa lepas dari rokok Super dan khas dengan makiannya “pe**r”. Gentong si paling bijak dan selalu membawa senjata yaitu inhaler anti asma. Nana sing paling bisa memanfaatkan setiap kesempatan di depan mata. Anjas gondrong cah Ponorogo yang penuh pesona, sangat sayang dengan sosok Kangmas. Ajir juragan pecel lele, paling tenar di Takor pada masanya. Bosko hadir sebagai malaikat penyelamat dengan traktirannya, TV dan mesin cuci yang dibawa ke kontrakan meski tidak bertahan lama karena rusak, pokoknya kalau butuh dana tinggal sebut namanya.   

Setelah sedikit mengenal makhluk-makhluk di atas, gue akan bercerita dua kejadian yang paling berkesan buat gue yaitu kisah asmara klasik dan kisah mahasiswa kere. Kita mulai dari betapa kere kami saat itu. Salah satu tampat makan favorit adalah warung emak yang terletak di hutan Psikologi. Kebiasaan kami adalah makan soto, satu mangkok rame-rame, sering minta nambah kuah, nasi agak banyak, dan nggak lupa remahan tempe goreng. Setelah itu minum es teh manis yang bertahan dari siang sampai sore sambil main kartu. Makanan lain yang sering dibeli adalah nasi imbi atau alo di warung Mang Ari, kami suka ini karena bisa ngutang. Saking jarang banget makan enak, sekalinya diajak Bosko makan di resto all you can eat, kami makan seperti kerasukan bahkan ada diantara kami yang jackpot. Kejadian paling nyesek buat kami adalah saat kontrakan kemasukan maling dan hampir semua hape lenyap. Sudah kere, kemalingan pula.

Cerita lain adalah tentang persaingan dua jalma Reges mendapatkan hati seorang perempuan. Dua orang dari kami naksir cewek yang sama (sebut saja Santi), masih satu kampus dan satu angkatan. Awalnya sih cukup tenang dan masih bisa saling ejek. Tapi sejalan mereka berdua makin serius mendapatkan hati Santi, suasana jadi canggung. Kami yang tadinya sering ngeledek dua kawan itu, mulai lebih menahan diri. Kedua orang itu terlihat semakin jarang ngobrol. Gue inget betul, salah satu dari mereka sering curhat dan punya lagu emosial saat itu – judulnya Aku Takkan Memililki karya Caffeine. Semesta punya caranya sendiri untuk menyudahi situasi tidak menyenangkan ini. Santi memilih orang lain sebagai tambatan hatinya, bukan salah satu dari mereka berdua. Serunya lagi, cowok yang dipilih Santi adalah juga kawan kami di kampus. Pada saat itu gue bersyukur karena lambat laun Reges kembali seperti semula, peer group yang menyenangkan.

Reges mengajarkan gue tentang arti persahabatan.  Sahabat itu soal kedekatan emosional yang terkadang nggak bisa dijelaskan secara gamblang. Mengalami kesusahan bersama membuat relasi kami erat. Meskipun kami berjuang masing-masing untuk menyelesaikan kuliah (terutama saat membuat skripsi) dan mencari penghidupan, gue masih merasa ada ikatan dengan mereka. Konflik diantara kami justru mengasah cara kami melihat dan mengerti satu sama lain. Perbedaan keyakinan dan ritual sama sekali tidak menjadi batasan keakraban.

Saat ini kami hidup dengan keluarga masing-masing. Gue bersyukur dengan kemajuan teknologi, kami masih dapat terus terhubung dan bertemu. Sehat-sehat guys.

2 thoughts on “Ocha, Om Hans, dan Reges

  1. Yerus

    Thx a lot Jo……Tulisan ini membawa kembali romansa situasi saat itu dan nilai-nilai perjuangan bersama…sense of belonging itulah yang membuat kita selalu merasa sama dan satu…

    1. admin

      Tq, Prof

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts