0%
Still working...

Bokap gue meninggal pada masa pandemi, dua tahun kemudian Nyokap nyusul cinta sejatinya. Nggak mudah buat gue menjalani hidup setelah mereka pergi dan gue mengalami suatu pengalaman takut mati yang bener-bener menyiksa.

Memang udah lama Bokap sakit dan sering keluar masuk RS, tapi saat terakhir masuk RSCM sebelum dia check out itulah masa-masa tergelap gue. Pandemi membuat gue harus membelah pikiran dan hati ke Bokap dan anak istri gue. Keluarga gue butuh perhatian penuh, terutama tiga bocah yang menjalani kegiatan belajar jarak jauh …. di sisi lain gue pengen banget sering-sering jagain Bokap di RS karena gue tau waktunya udah nggak lama.

Gue bersyukur karena masih bisa jagain dia H-2 sebelum dia pergi, inilah waktu terbaik sekaligus terburuk gue bareng Pak Narto. Kondisi dia udah sangat buruk: makan harus pakai selang, nafas udah satu dua, ngomong udah nggak jelas, terus minta dipijet karena badannya sakit. Sedih banget liat dia mengalami penderitaan seperti itu, tapi bahagia karena gue masih bisa melayani dia. Entah kekuatan dari mana yang bikin gue sanggup menjaga Bokap tanpa tidur sama sekali dan tetep kuat melihat dia kesakitan.  

Meski badannya sudah sangat lemah, pikiran Bokap saat itu kayaknya masih sehat. Dia masih tau kalau gue yang jaga, dan hebatnya lagi dia masih bisa nulis pembagian warisan walaupun akhirnya gue minta dia ngomong aja (gue rekam) karena tulisannya makin lama makin nggak kebaca. Gue nggak habis pikir ini orang hebat bener masih bisa mikir di saat seperti itu, dan presisi, karena gue cek apa yang dia sampaikan dengan catatan saat dia masih sehat. Salute, Pak.

Gue nggak peduli soal warisan. Gue hanya peduli dan inget satu hal sampai saat ini, dia pesen “Wahyu, kamu jaga anak-anakmu ya”. (Gue nulis ini hampir lima tahun setelah dia pergi, dan saat nulis ini kesedihan itu ada di samping gue.)

Gue pulang dan gentian Mbak gue yang jaga. Besoknya Bokap meninggal.

Saat baca WA bahwa Bokap udah nggak ada, gue sama sekali nggak merasakan apapun. Nggak ada kesedihan dan gue nggak nangis sama sekali, yang ada hanya kekosongan. Dengan hati yang dingin gue pergi ke RSCM dan melihat Bokap udah di kamar jenazah tapi belum dimandiin. Gue cium keningnya. Masalah besar muncul, Nyokap belum tau kalau kekasihnya pergi untuk selamanya dan nggak ada dari kami berempat yang tega untuk ngasih tau dia, yang saat itu ada di hotel di deket RSCM. Ketiga saudara gue minta gue yang ngasih tau nyokap, ampun deh.

Ini tugas paling berat seumur hidup gue, tapi mau gimana lagi. Mumpung hati ini belum merasakan kesedihan, gue masuk ke kamar hotel dan gue peluk Nyokap sambil berbisik “Bu, Bapak udah nggak ada”. Dalam posisi duduk Nyokap menitikkan air mata dan ngomong “Kenapa kalian nggak biarin Ibu nemenin Bapak sampai dia meninggal ?”  Pada saat inilah kesedihan mulai memeluk tubuh gue dan makin lama makin erat.

Setelah Bokap dimandiin dan masuk Rumah Duka Cikini, baru kami ajak Nyokap melihat orang yang dia cintai.

Pelukan kesedihan bener-bener meremukkan hati ini melihat Nyokap nangis di samping jenazah Bokap. Dia adalah Ibu yang gua kenal, berusaha tegar (seperti biasa) menghadapi situasi apapun. Tapi dengan kondisi fisik yang juga lemah sangat jelas dia mengalami kehancuran. “Pak, mbok Ibu diajak pergi” … itu kalimat yang paling sering dia ucapkan. Gue sadar betul betapa besarnya cinta Nyokap ke Bokap, meski pada saat mereka masih sehat Nyokap lebih sering “menjajah” dan Bokap hanya diam. Gue juga paham dia pasti merasa kesepian karena selama ini hanya Bokap yang nemenin dia karena semua anaknya sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Ngomong-ngomong soal sibuk, gue nyesel banget kalau inget dulu Bokap sering nelpon dan bertanya “Yu, kapan main ke rumah?” tapi gue nggak ada waktu (atau lebih tepatnya nggak terlalu memprioritaskan mereka berdua). Hidup gue hanya untuk kerja dan keluarga kecil gue, perhatian ke orang tua boleh dibilang sangat sedikit. Pak, Bu, maaf ya.

Kami memutuskan untuk segera memakamkan Bokap supaya nggak terlalu lama larut dalam kesedihan. Pada saat pemakaman benyak sekali orang yang datang, padahal saat itu pandemi (tetapi belum ada protokol ketat). Pak, banyak orang menicntaimu …Tuhan pasti juga sayang Bapak.

Proses pemakaman berlangsung lancar dan cepat, karena setelahnya waktu berjalan sangat lambat.

Nyokap menjadi semakin lemah dan pandemi semakin menjadi. Beberapa kali Nyokap masuk RS dengan prosedur yang sangat ketat. Demi kemudahan, kami memindahkan Nyokap ke rumah Abang gue karena rumah Nyokap (di dekat stasiun Pasar Minggu) sangat menyulitkan jika harus membawanya ke RS. Beruntung karena rumah Abang gue itu deket banget sama rumah gue, jadi gue bisa kapanpun datang dan nemenin Nyokap. Adik gue yang jagain Nyokap.

Merawat Nyokap pada masa pandemi juga bukan hal mudah, memang beban terberat ada di pundak adik gue. Gue sangat gembira karena inilah saat gue bisa sedikit mengurangi rasa bersalah dengan banyaknya waktu yang gue punya untuk duduk di samping nyokap. Ingatannya sudah menurun drastis tapi bersyukur dia masih ingat siapa-siapa yang datang. Dia selalu mengulangi cerita atau pertanyaan yang sama meskipun baru semenit diomongin. Dia seneng banget nonton wayang orang di YouTube, sampai wayang itu menonton dia yang tertidur. Anak-anak gue juga jadi temen yang bisa bikin Nyokap ketawa. Gue hanya mohon dalam hati “Tuhan kalau bisa saat seperti ini jangan cepat Kau rusak ya”.

Berkali-kali Nyokap minta pulang ke Pasar Minggu, dia bilang nggak betah di sini dan selalu mimpi Bokap datang. Nyokap juga sempat terkena virus corona dan jantung gue selalu berdebar setiap ada WA atau telepon, takut Nyokap kenapa-napa. Nggak lama setelah dia sembuh dari corona, kami memutuskan untuk memindahkannya ke Pasar Minggu. Tujuannya satu yaitu membuat Nyokap lebih bahagia.

Kondisi Nyokap semakin lemah dan dia dirawat. Gue seneng bisa sering menjenguk atau nemenin dia karena rumah gue deket dengan RS UI tempat Nyokap dirawat.

Suatu malam Abang gue telepon dan minta kami berkumpul di rumah sakit, katanya waktu Nyokap udah nggak lama. Dia udah nggak sadar, hanya bisa menitikkan air mata. Gue pasrah saat Nyokap bener-bener pergi malam itu. Sebelum dia pergi, gue hanya bisa mencium kening dan kakinya. Gue inget saat gue mencuci kaki Bokap Nyokap (pada saat mereka masih sehat), minta doa ke mereka … eh malah gue gak punya banyak waktu untuk mereka. Bu, maafin aku ya.

Nyokap disemayamkan di Rumah Duka RS UI, esoknya kami bawa ke Gereja Keluarga Kudus dan pada hari yang sama dimakamkan di Kampung Kandang, berdekatan dengan kekasihnya. Sama seperti Bokap, gereja ini adalah tempat Nyokap memberikan semua yang dia punya. Mereka dicintai oleh banyak orang di sini. Pada saat misa, gereja penuh orang-orang yang kenal Nyokap. Gue teringat saat nikah, gereja juga penuh karena memang mereka sangat aktif dan berkesan bagi banyak orang. Bu, Tuhan pasti udah memelukmu saat Ibu menghembuskan nafas terakhir.

Kepergian Bokap memberikan pengalaman mengerikan buat gue, fear of death. Dua tahun lebih, sampai Nyokap meninggal, gue nggak bisa keluar dari ketakutan ini. Apa yang gue takutin? Pertama, gue takut menderita seperti Bokap dan Nyokap sebelum meninggal. Kedua, takut setelah gue meninggal siapa yang akan mengurus ketiga bocah di rumah. Berbagai macam hal dicoba untuk mengatasi ini. Gue coba baca beberapa buku tentang kematian dengan harapan bisa mendapat ketenangan rasional, gagal. Gue coba ngobrol dengan beberapa teman, tapi yang gue dapet adalah pernyataan empati yang nggak membantu. Gue baca-baca artikel tentang healing paska kematian orang tercinta, juga nggak berhasil. Menghinopsis diri sendiri juga nggak berguna (gue pernah belajar hipnosis dari Pak Yan Nurindra dan Pak Adi W. Gunawan). Nyoba pendekatan religius juga nggak mempan.

Cahaya yang menyingkirkan ketakutan itu muncul secara tak terduga. Gue sedang ngopi sendirian dan iseng kirim WA ke salah satu teman kantor yang juga kuliah di STFD. Sedikit gue certain kondisi gue, lalu dia bilang “Pulang, Bro… beli martabak trus makan bareng keluarga lo. Gue punya temen yang justru takut menjalani hidup karena harus bertanggung jawab ngurus anak-anaknya …” Aha, gue dapet clue ajaib yang bisa mengurangi secara signifikan dua ketakutan gue. Tanggung jawab, itulah keajaiban yang sampai saat ini gue bisa berdampingan dengan rasa takut (yang masih ada tetapi sudah nggak mengganggu).  

Tuhan punya cara unik untuk menempa dan membentuk. Waktu jadi teman yang selalu sabar. Jadi, berdamailah dengan Tuhan dan Waktu.

2 thoughts on “Saat Mereka Pergi

  1. Nazarius

    Sedih ya bro, sama kayak gua. Bapak meninggal di periode Covid. Gak ada kesempatan membesuk dlsb. Yg bisa dikunjungi (ziarah) hanya makamnya 😔. Tapi percayalah, orangtua menjadi kuat karena mereka “harus” menjadi yg terbaik buat anak2nya. Begitupun kita.
    Gue bisa ngerasain betapa dalemnya proses yang lo lewatin. Gue salut lo berani jujur soal kegagalan berbagai pendekatan—mulai dari empati orang lain, artikel-artikel, sampai hipnosis dan pendekatan religius. Kadang emang nggak ada satu resep yang manjur buat semua orang, apalagi dalam menghadapi kehilangan sebesar itu.
    Tapi bagian yang paling menyentuh gue adalah saat lo cerita soal “martabak dan tanggung jawab.” Sederhana banget tapi ngena. Kalimat dari temen lo itu kayak sinar kecil yang masuk lewat celah gelap—nggak menghapus semuanya, tapi cukup buat lo bisa berdiri lagi. Ternyata kadang bukan soal menghilangkan rasa takut, tapi menemukan alasan yang lebih kuat buat terus jalan. Dan tanggung jawab, apalagi buat keluarga, memang bisa jadi keajaiban seperti yang lo bilang. God bless 🙌

  2. admin

    Tq, brother

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts